SNSD - Oh! (Japan Ver.)

Selasa, 21 Desember 2010

POLIGAMI DAN MONOGAMI

Sepanjang tahun 2007 yang lalu, ternyata penyebab utama kasus perceraian antara pasangan bukan karena poligami, tetapi karena ketidakharmonisan pribadi dan kasus perselingkuhan.

Data tersebut didapat dari badilag.net yang baru saja diluncurkan hari Jumat yang lalu (19/02). Dari data yang didapat, ada 15.771 kasus perceraian yang terjadi waktu itu. 77.528 kasus perceraiannya disebabkan karena ketidakharmonisan pribadi. Perselingkuhan menyebabkan 10.444 pasangan bercerai, sementara poligami hanya menyebabkan 937 kasus saja.
“Kami juga akan terus meng-up date data hingga yang paling akurat,” kata Dirjen Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) WAhyu Widiana.
Ketidakharmonisan pribadi diantaranya dipicu oleh salah satu pihak yang meninggalkan kewajiban, seperti salah satu pihak tidak bertanggung jawab, faktor ekonomi keluarga atau sejarah pernikahan yang dulunya memang dipaksakan oleh orang tua pasangan.
Sementara itu, kasus perceraian tersebut kebanyakan terjadi di Jawa Tengah. Di Jawa Tengah inilah terjadi 57.258 kasus. Disusul oleh Jawa Timur (52.764 kasus) dan Jawa Barat (30.487 kasus).

Azas monogami diberlakukan untuk menjaga kemungkinan- kemungkinan yang timbul sebagai akibat dari poligami itu sendiri, sehingga dengan demikian poligami hanya diperbolehkan jika kondisi sangat menuntut. Dan poligami pun merupakan pintu darurat yang hanya diperbolehkan bagi orang-orang yang memang sangat membutuhkannya. Di samping hal tersebut, poligami hanya diizinkan dengan memperhatikan syarat yakni dapat dipercaya bahwa orang yang melakukan poligami tersebut benar- benar dapat menegakkan keadilan dan aman dari suatu perbuatan yang melampaui batas. Jadi tidak semua pria boleh melaksanakan poligami.
Banyak fakta yang dapat dilihat dalam kehidupan, bahwa poligami banyak menimbulkan akibat- akibat yang kurang baik bagi kelangsungan rumah tangga. Misalnya saja dua orang yang dimadu, senantiasa membujuk anaknya masing- masing untuk saling memusuhi saudaranya dari ibu yang lain. Dalam hal yang lain dapat pula terjadi seorang isteri akan senantiasa mempengaruhi suaminya agar hanya mencintai anak-anaknya dari pada anak-anaknya yang berasal dari ibu yang lain. Dan kenyataan memang banyak menunjukkan bahwa seorang suami terkadang cenderung untuk lebih mencintai anak-anaknya dari ister yang dicintainya pula.


PANDANGAN ISLAM TERHADAP POLIGAMI DAN MONOGAMI

Monogami, poligami jika dipandang dari sudut islam lebih banyak membawa resiko/madarrat dari pada manfaat.
Karena manusia itu menurut fitrahnya mempunyai watak cemburu, iri hati suka mengeluh. Watak-watak tersebut akan mudah timbul jika hidup dalam kehidupan keluarga yang poligamis. Dengan demikian poligami itu bisa menjadi sumber konflik dalam kehidupan keluarga.

Karena itu hukum asal dalam perkawinan menurut islam adalah monogami,sebab dengan monogami akan mudah menetralisasi sifat-sifat yang jelek itu dalam kehidupan keluarga.

Oleh karena itu, poligami hanya diperbolehkan, bila dalam keadaan darurat, misalnya istri mandul tidak dapat memberi turunan, mempunyai penyakit yang sulit disembuhkan seperti penyakit kusta dan penyakit menular lainnya. Juga dibolehkan apabila yang berpoligami itu sanggup berlaku adil, sanggup memberi nafkah yang sesuai, setuju kedua belah pihak.

PENGARUH DAN DAMPAKNYA:

Pengaruh yang paling besar adalah pengaruh terhadap perkembangan anak dan masa depannya. Dalam suasana yang tidak harmonis akan sulit terjadi proses pendidikan yang baik dan efektif, anak yang dibesarkan dalam suasana seperti itu tidak akan memperoleh pendidikan yang baik sehingga perkembangan kepribadian anak mengarah kepada wujud pribadi yang kurang baik. Akibat negatifnya sudah dapat diperkirakan yaitu anak tidak betah dirumah, hilangnya tokoh idola, kehilangan kepercayaan diri, berkembangnya sikap agresif dan permusuhan serta bentuk-bentuk kelainan lainnya. Keadaan itu akan makin diperparah apabila anak masuk dalam lingkungan yang kurang menunjang. Besar kemungkinan pada gilirannya akan merembes ke dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas lagi.
Salah satu dampak terjadinya poligami adalah anak kurang mendapatkan perhatian dan pegangan hidup dari orang tuanya, dalam arti mereka tidak mempunyai tempat dan perhatian sebagaimana layaknya anak-anak yang lain yang orang tuanya selalu kompak. Adanya keadaan demikian disebabkan karena ayahnya yang berpoligami, sehingga kurangnya waktu untuk bertemu antara ayah dan anak, maka anak merasa kurang dekat dengan ayahnya dan kurang mendapatkan kasih sayang seorang ayah.
Kurangnya kasih sayang ayah kepada anaknya, berarti anak akan menderita karena kebutuhan bathinnya yang tidak terpenuhi. Selain itu, kurangnya perhatian dan control dari ayah kepada anak-anaknya maka akan menyebabkan anak tumbuh dan berkembang dengan bebas. Dalam kebebasan ini anak tidak jarang mengalami kemorosotan moral, karena dalam pergaulannya dengan orang lain yang ter pengaruh kepada hal-hal yang kurang wajar.




http://meetabied.wordpress.com/2009/12/25/pengaruh-poligami-terhadap-perkembangan-psikologi-anak/

http://meetabied.wordpress.com/2010/11/21/poligami-dan-pengaruhnya-terhadap-anak-ditinjau-dari-sisi-psikologis-dalam-prespektif-hukum-islam/

http://kampungtki.com/baca/8937

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar